I. Latar
Belakang
Sejarah
Ahisaun
Fajar
baru, zaman kemerdekaan Timor Leste mulai terbit dan Ahisaun pun mulai mekar .
Ahisaun baru mulai pada tahun 1999, tapi ide dan usaha mulai dari tahun 1996,
ketika Romo Adri Ola (waktu masih frater) menjalankan sensus di Paroki Same dan
menemukan banyak cacat di Timor Lorosa’e. Ada yang cacat sejak dari kandungan,
ada yang cacat karena penyakit, ada pula yang cacat akibat perang. Para
penyandang cacat di samping menyimpan sisi-sisi duka dari kehidupan yang tidak
beruntung, tapi di sisi lain mereka memancarkan daya harapan yang tinggi.
Sebuah sapaan dan sentuhan membuat mereka seakan hidup lagi, meski banyak yang
sulit dibebaskan dari perasaan yang suram tapi bukan tampa harapan. Jika orang
cacat diberi kepercayaan dan ketrampilan maka mereka bisa tampil cemerlang.
II.
Espritualitas
Ahisaun
·
Mata
kita tertuju kepada Yesus, tabib yang menyembuhkan orang lumpuh yang
dijumpai-Nya, ia pasti mengenal penderitaan dan harapan kita
·
Sesudah
penerimaan diri dan penyembuhan oleh Tuhan yang bangkit, kita bergerak ke medan
perjuangan di tengah kehidupan sosial.
·
Yesus
Emanuel beserta kita dan menghantar kita kepada pengenalan kasih akan Bapa-Nya
di surga.
·
Roh
Yesus dan Bapa yaitu Roh kudus
menginspirasi segala perjuangan kita
III.Tujuan
Pengudusan
para orang cacat, yang hidupnya bersumber pada Kristus sesuai dengan nasehat
Injili lewat. Pengabdian diri dalam pelayanan “Cinta Melalui Belaskasih” yang
konkrit kepada sesama manusia, terutama yang cacat, lemah, miskin dan
tertindas, dengan berpedoman pada semboyan, dan dalam semangat kesederhanaan
dan kesiapsediaan kepada Tuhan Yesus Kristus
IV. Peraturan
1. Hidup doanya
1.
Ibadat
Harian
2.
Meditasi
3.
Rosario
4.
Bacaan
Rohani
5.
Pemeriksaan
Batin
6.
Bimbingan
Pribadi (Pembicaraan
dengan Pembina Rohani)
V.
Hidup
kelompok
1. Fokus perioritas
1. Orang
cacat hidup beriman dengan Kristus
2. Hidup
untuk melayani sesama
3. Pengenalan
pada kehidupan, semangat dan kharisma
VI. Identitas komunitas
1.
Komunitas
kita adalah meneladankan komunitas Gereja Perdana yakni Para Rasul sendiri.
2.
Komunitas
merupakan tempat hidup kita, dimana kita dituntut untuk terbuka kepada sesama
kita yang hidup bersama dengan kita.
3.
Kita
dipanggil dengan nama masing-masing karena itu kita dihimpun menjadi satu dan
saling mendukung dalam panggilan yang kita jalani.